pramugari life style

Tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri sering disorot negatif. Karena mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang umumnya masih tanpa perlindungan kerja, jaminan kesehatan dan banyaknya kasus pelecehan seksual. Bila tenaga kerja yang paling banyak adalah perempuan itu bukanlah pembantu rumah tangga tapi seorang profesional yang penuh perlindungan dan jaminan, bisa jadi sorotan akan berubah jadi kebanggaan. Teroponglah sebagian kecil dari tenaga kerja perempuan itu di dunia penerbangan. Perempuan-perempuan kita yang bekerja sebagai pramugari di airlines asing. Menurut Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Khofifah Indar Parawansa, kalau tenaga kerja di mana pun adalah aset, maka pramugari di maskapai asing itu boleh dikatakan aset yang berharga. Disana, mereka berprestasi dan amat dihargai. Rasantika Merat Seta, Roni Sontani, Adeline May Tumenggung dan Reni Rohmawati memberikan gambaran mengenai keberadaan mereka.

 Singapore Girls

Bukan tidak bangga mengenakan seragam awak kabin nasional kalau mereka mencari seragam lain di airlines asing. Inilah satu cerita yang diungkapkan Kepala Awak Kabin Garuda Indonesia Rudolf G. Johan Sahanaja, “Seorang calon pramugari mendaftar ke Garuda. Tapi sayang, ia betul-betul tidak masuk seleksi. Tahu nggak sekarang ia di mana? Dia diterima sebagai pramugari di Cathay, dan jelas bagus. Kalau nggak bagus, mana bisa masuk.”
Memang diakui, umumnya calon pramugari Indonesia yang bekerja di maskapai asing memiliki potensi yang lebih tinggi dari calon pramugari untuk airlines nasional. Dari segi bahasa pun jelas, mereka fasih berbahasa Inggris. Belum lagi persyaratan lain yang ketat diterapkan, terutama penampilan.
Tapi kenapa pramugari tadi sampai gagal di Garuda tapi diterima di Cathay Pacific? Banyak faktor yang mempengaruhinya. Mungkin ia sedang tidak fit saat masuk tes Garuda, atau ia belum siap, atau juga karena faktor X diakui Rudolf, sering ada intervensi berbagai pihak untuk penerimaan calon awak kabin ini. Mungkin karena tekadnya kuat untuk jadi pramugari, pengalaman itu bisa jadi cambuk untuk lebih meningkatkan potensi dirinya. Kala ikut tes Cathay, ia dalam kondisi prima.
Kasus-kasus seperti itu beberapa memang terjadi. Tapi ada juga calon pramugari yang memfokuskan diri jadi pramugari maskapai asing. Beberapa pramugari kita di Singapore Airlines (SIA), Cathay dan Korean Air (KE) mengakuinya. Beberapa menyadari, penampilan mereka dengan paras wajah bertampang melayu cina, akan lebih cocok untuk maskapai-maskapai tersebut.
Apalagi Garuda sejak tahun 1993 memang tidak lagi menerima lamaran untuk awak kabin baru. Pengalaman Mira Rachmawati yang sudah lima tahun sebagai pramugari KE menjelaskan hal itu. Sebelumnya, ia pernah tes untuk jadi pramugari haji tahun 1993 dan diterima. Tahun berikutnya, ia dipanggil lagi, tapi bersamaan tes penerimaan KE. “Saya pilih Korea,” katanya.

Awak kabin perempuan
Mira (duduk paling kiri) dengan rekan pramugari Korean Air lainnya

Sekarang ini, tampang khas Indonesia juga banyak dilirik. Mereka dibutuhkan maskapai asing untuk menambah jajaran awak kabinnya. Dari dulu sampai kini, kebanyakan awak kabin perempuan atau pramugari yang mereka terima, sedangkan pramugara baru tersentuh maskapai penerbangan Uni Emirate Arab, Emirates, yang baru menerimanya tahun ini. “Tahun depan, rencananya kami akan menerima awak kabin pria lagi,” jelas John Rotikan, General Manager Emirates di Indonesia.
Kenapa pramugari lebih disukai? “Karena yang saya tahu, sampai saat ini penumpang masih lebih nyaman mendapat pelayanan dari perempuan,” ungkap Rudolf. Maka di Garuda yang memiliki 2.086 10 pramugari sedang ‘cuti’ melahirkan cuma sepertiganya pramugara (674 orang). “Itupun masih banyak. Mungkin yang pas seperempatnya saja.”
Manajer Adiministrasi, Humas dan SDM SIA di Indonesia Susie Charma juga menjelaskan bahwa hanya pramugari Indonesia yang dijaringnya. Walau di SIA ada juga pramugara, tapi biasanya memang orang setempat. Demikian di KE, Cathay, Malaysia Airlines (MAS), Thai Airways, Saudi Arabian Airlines dan Royal Brunei.
Awalnya mereka merekrut pramugari Indonesia karena kebutuhan akan pramugari yang bisa bahasa Indonesia di kabinnya. Mereka ingin menambah kenyamanan penumpang Indonesia dengan menampilkan juga pramugari bangsanya sendiri. Hal itu terjadi mulai awal tahun 1990-an.
Seperti KE yang awal masuk Indonesia tahun 1991 melihat banyak penumpang Indonesia yang terbang ke Seoul. Setahun kemudian, maskapai penerbangan Korea Selatan ini mulai merekrut pramugari Indonesia.
“Tahun 1992 itu dari ratusan pendaftar terjaring 20 orang. Pada tahun yang sama kami menambah lagi dengan 20 pramugari, dilanjutkan tahun 1994 dengan jumlah yang sama dan tahun 1997 masuk 25 pramugari. Setelah itu kami stop,” kata Dian A. Yambo, public relations KE, yang menambahkan bahwa tahun ini kesempatan terbuka bagi gadis-gadis Malaysia.
Dari 85 itu, kini tinggal 32 pramugari Indonesia di KE. Angkatan pertama yang masuk tahun 1992 kini masih tersisa satu pramugari, Ariesta Marina Savitri (28) yang sudah jadi purser (awak kabin senior yang melayani first class).
SIA kini memiliki 149 pramugari Indonesia batch terakhir 22 pramugari, diwisuda Oktober lalu sejak rekrut pertama tahun 1994, yang hanya menerima tujuh pramugari. Desember ini, SIA kembali mengadakan walk-in interview untuk menjaring pramugari asal Indonesia. “Kami mencari sebanyak mungkin karena banyak pesawat baru akan datang,” kata Susie.
Cathay adalah maskapai asing pertama yang merekrut pramugari Indonesia, mulai tahun 1982, 10 tahun sejak masuk ke Jakarta. Kini ada sekitar 70 pramugari di Cathay dan salah seorang di antaranya sudah menjadi chief purser, tingkatan paling tinggi di jajaran awak kabin Cathay. “Tapi sejak tiga tahun terakhir, kami tidak lagi merekrut pramugari Indonesia. Jumlah pramugari yang bisa berbahasa Indonesia dianggap sudah mencukupi, selain penumpang Indonesia ke Hong Kong juga menurun,” ujar Ida Sylviana Bekti, Marketing Communication Executive Cathay, beralasan.
Maskapai Hong Kong ini sedang mengejar target untuk jadi the best modern Asia, dengan prioritas Hong Kong. “Entah nanti, kalau pasar Indonesia kembali membludak, kemungkinan bisa dibuka lagi perekrutan pramugari Indonesia,” tambah Ida.
Demikian MAS, yang sudah beberapa tahun belakangan ini tidak lagi merekrut pramugari Indonesia. “Kini mungkin cuma tinggal dua pramugari Indonesia,” kata Maria, staf MAS di Indonesia.
Royal Brunei yang sekarang mempekerjakan 12 pramugari Indonesia di antara 400 awak kabinnya, ternyata punya rencana ke depan ingin mempekerjakan pramugari lokal semua. Seperti juga halnya Garuda, yang memang sampai kini belum pernah mempekerjakan pramugari asing.

Timur Tengah berminat

Emirates awalnya pesimis, pramugari Indonesia bisa masuk jajaran pramugarinya yang direkrut dari 45 bangsa itu. “Dari seribu pendaftar, tahun 1997, hanya tiga yang terjaring. Kendala utama dalam berbahasa Inggris,” kata John.
Tapi pesimisme itu rupanya tidak beralasan. Emirates di Indonesia terus mencari potensi-potensi itu. Tahun 1998, tujuh pramugari dan empat pramugara masuk. Terakhir Emirates membuka penerimaan keempat, Maret 1999, dan sudah menjaring lebih 30 awak kabin, lima di antaranya pramugara. Bahkan salah seorang pramugari Indonesia, Jenny Tjahyadi, terpilih sebagai “The Best Cabin Crew of The Month, April 1999″.
Negara-negara Timur Tengah lain ternyata juga mulai tertarik untuk mempekerjakan pramugari Indonesia. Selain Emirates, Oman Air yang walaupun tidak terbang ke Indonesia sudah memiliki lima pramugari, di antaranya mantan pramugari Merpati Nusantara.
Saudia yang banyak mengangkut TKI, juga mengikutsertakan beberapa pramugari Indonesia di penerbangannya, terutama penerbangan ke dan dari Jakarta, mulai tahun 1993. Kini sekitar 20 pramugari masih aktif, bahkan beberapa di antara mereka tidak lagi hanya terbang ke Indonesia, tapi juga ke mancanegara.
Lain Timur Tengah, lain maskapai negara-negara Eropa, Cina dan Jepang. Maskapai dari Eropa, seperti KLM, British Airways, Lufthansa, Air France, sampai saat ini belum membuka peluang bagi gadis-gadis Indonesia. Umumnya, maskapai Eropa berdalih, “Garuda juga belum menerima awak kabin dari luar kan?”
Tapi Lufthansa, misalnya, sebenarnya membutuhkan pramugari berparas Asia. Tapi syarat bisa menguasai tiga bahasa, di antaranya bahasa Mandarin, menjadi syarat yang sulit dipenuhi gadis-gadis Indonesia. Maka untuk itu, maskapai Jerman ini merekrutnya dari Thailand. Rupanya bagi gadis Indonesia masih banyak kendala dan hambatan.
Maskapai Jepang, Japan Air Lines (JAL) dan All Nipon Airways (ANA), walau juga terbang ke Jakarta dan Denpasar, penumpangnya masih didominasi bangsanya sendiri. Apalagi bangsa Jepang dikenal memiliki nasionalisme yang sangat tinggi.
Demikian dengan maskapai Cina dan Taiwan. EVA Air, misalnya, tidak mempekerjakan pramugari Indonesia karena mensyaratkan bisa berbahasa Mandarin, juga khawatir orang kita tidak akan merasa nyaman berada di lingkungan dengan budaya yang sangat berbeda. Para pramugari itu memang akan ber-home base di Taiwan.

Gaji dan jaminan

Jadi awak kabin di airlines asing merupakan daya tarik tersendiri. Tidak dipungkiri, penghasilan yang besar, umumnya dengan mata uang asing, menjadi daya tarik utama. Ditambah lagi jaminan kesehatan umumnya maskapai penerbangan memberi jaminan kesehatan yang sangat baik, termasuk juga Garuda dan jaminan perlindungan kerja, termasuk asuransi sebagai air crew. Belum lagi tiket ‘gratis’ bisa free, hanya bayar beberapa persen setahun sampai lima tiket untuk terbang ke manca negara, bahkan beberapa perusahaan memberi juga buat keluarga.
Di Cathay, seorang pramugari bisa mendapat penghasilan 10.000 dollar Hong Kong, ditambah flying allowances sekitar 5.000 dollar. “Kalau chief purser penghasilannya bisa mencapai 50.000 dollar,” kata Ida Sylviana. Tapi allowances itu, bisa juga dibayar dengan mata uang lain, bisa rupiah, dollar AS, franc dan lainnya. Jam terbang pramugari Cathay, paling tidak 72 jam sebulan. Kalau lebih, mereka dapat allowances lagi, begitu juga bila dalam satu tahun mereka terbang lebih dari 800 jam.
Penghasilan pramugari SIA tidak kalah besar dan tidak dibedakan dengan pramugari Singapura sendiri. Sekadar hitung-hitungan, gaji pokok mereka berkisar antara 950-1.975 dollar Singapura. “Kalau mereka terbang full bisa mendapat 3.000 dollar,” kata Susie. Yang membanggakan, tahun 2000 nanti ada tiga pramugari Indonesia yang mendapat bonus lima tahun sebagai karyawan SIA, masing-masing mendapat 15.000 dollar Singapura.
Tapi pengeluaran pramugari di luar sana bisa dikatakan besar. “Sebenarnya mereka tidak boros berbelanja. Untuk tempat tinggal juga mereka biasanya tinggal bersama satu atau dua temannya. Tapi biaya telepon internasional sangat besar,” kata Susie, yang dibenarkan para pramugari dan karyawan SIA lainnya.
Kalau di Cathay dan SIA pramugari tinggal di negara asal maskapai, lain dengan KE. Pramugari Indonesia tinggal di Jakarta, tapi gaji pokoknya juga dalam rupiah. Hanya bila ia terbang ke Korea, dapat fee dalam won Korea dan bila ke luar Korea dapat dollar AS. Dihitung-hitung, pendapatan mereka rata-rata sekitar Rp 10 juta per bulan bahkan pernah lebih besar lagi saat nilai dollar melonjak. Tentu akan berlipat-lipat bila awak kabin itu sudah senior, atau purser.
Emirates sendiri menetapkan penghasilan pramugarinya dalam dollar AS. Untuk pramugari yang baru masuk sampai tiga bulan dapat mengantongi uang 1.000 dollar, dan naik setelahnya. Mereka juga mendapat fasilitas tempat tinggal dan uang transpor untuk ke tempat kerja, dan dapat jatah cuti 25 hari per tahun serta tiket gratis buat orangtua.
Pramugari Saudia juga mendapat fasilitas tempat tinggal dan transpor gratis. Hingga dalam sebulan mereka dapat ‘gaji bersih’ 2.000 real (mata uang Arab Saudi), untuk pramugari junior. Tentu lebih besar lagi bila sudah senior dan terbang penuh.
Menurut Mira, penghasilan di maskapai asing manapun kalau dihitung-hitung dengan pengeluaran bisa sama saja besarnya. Bisa jadi pramugari KE mendapat penghasilan lebih sedikit dari SIA, tapi biaya hidup di Singapura tentu lebih besar daripada di Jakarta. “Kalau ada pramugari salah satu airlines asing pindah ke airlines asing lain, mungkin pertimbangannya bukan karena gaji, tapi keinginan tinggal, apa ingin di negeri sendiri atau di negara mana,” ungkapnya.
Berbeda bila pramugari penerbangan nasional ingin pindah ke airlines asing. Gaji dan fasilitas yang menjanjikan menjadi pertimbangan utama. Terutama bagi pramugari-pramugari yang terbang domestik.
Penghasilan pramugari Garuda sendiri tidaklah terlalu kecil. Pramugari junior yang terbang internasional mendapat penghasilan sekitar Rp 4,5 juta, senior bisa sampai Rp 6 juta dan purser antara Rp 8 juta – Rp 9 juta. Gaji pokoknya sendiri untuk junior Rp 1,5 juta, senior Rp 2,2 juta dan purser Rp 5 juta. Walau jaminan kesehatan, asuransi dan status sebagai karyawan tetap, bisa juga jadi daya tarik.
“Sebenarnya dollar bukan segala-galanya. Menurut saya pribadi, lingkungan sekeliling kita yang menentukan. Memang, dengan penghasilan lebih, kita bisa simpan. Tapi kita di sini juga cukup, walau tak punya uang yang disimpan,” kata Rudolf.
Tapi Rudolf juga mengakui, masih perlu menumbuhkan rasa kebanggaan, cinta dan rasa memiliki di Garuda. “Sistem dan budaya yang baik perlu dibenahi dan dibangkitkan lagi.”

Disiplin dan kerja keras

Memang baru beberapa saja pramugari Indonesia yang berkiprah di dunia internasional. Dibandingkan dengan punya Garuda yang 2.086 awak kabin, 617 di Merpati, 64 di Bouraq Airlines dan 102 di Mandala Airlines, ditambah 26 di Airfast, 55 di Pelita Air Service dan tak lebih 20 di penerbangan carter lain, maka awak kabin di perusahaan asing itu hanya 10 persennya.
Tentu saja yang sedikit itu melalui saringan yang ketat. Kemudian, mereka juga bekerja dengan keras. Kerja mereka di sana berbeda dengan pramugari di sini. Penerapan disiplinnya sangat tinggi. Tapi dengan berprestasinya mereka di sana, kita patut bangga bahwa mereka pun dihargai.
Pramugari SIA sangat ketat dalam hal penampilan. Menjadi tantangan bagi mereka, ukuran dan proporsi tubuh mereka tidak boleh berubah. Seragam pertama mereka lah yang jadi acuan. Bila sudah tidak cukup lagi, atau menjadi kebesaran, maka pramugari itu bisa grounded dan diberi waktu untuk mengepas badannya lagi. Untuk urusan penampilan, walau tidak seketat di SIA, pramugari di Cathay, Emirates atau KE pun harus menjaganya.
Lain dengan di Saudia. “Proporsi tubuh tidaklah begitu penting. Seragam kami kan baju panjang yang tidak memperlihatkan bentuk tubuh. Yang penting, kami bekerja dengan baik dan sesuai prosedur. Penggunaan bahasa Inggris pun tidaklah seketat airlines lain, walau saat seleksi masuk tetap harus bisa berbicara dalam bahasa Inggris karena pengujinya bukan orang kita,” kata Hemawati Kartiwan, mantan pramugari Saudia yang resign tahun 1997.
Hema masuk Saudia tahun 1994, dan keluar karena menikah. “Tapi bukan karena di Saudia pramugari tidak boleh menikah. Bahkan punya anak pun masih boleh bekerja. Beberapa teman juga sekarang sedang cuti melahirkan dan kemungkinan nanti akan bekerja lagi. Saya juga mendapat kemudahan itu bila kelak saya ingin kembali bekerja,” katanya.
Urusan menikah dan punya anak memang berbeda di tiap perusahaan. SIA dan Cathay juga membolehkan pramugarinya menikah dan punya anak, asal penampilannya kembali seperti sebelumnya. Di KE, dalam satu tahun tidak boleh menikah. Untuk selanjutnya, boleh saja ia menikah, tapi tidak ada cuti melahirkan. Peraturan di KE termasuk sangat ketat. Karena kalau ia tidak terbang tiga kali dengan alasan apapun, bisa langsung dikeluarkan.
Emirates menerapkan disiplin, kalau menikah out. Usia juga dibatasi, walau ada purser yang sampai 35 tahun dan masih lajang. Lain dengan pramugara yang boleh berkeluarga. “Makanya awak kabin kami muda-muda dan segar,” kata John.
Peraturan ketat, kerja pun berat. Tapi Mira bisa menjalaninya di KE. “Saya sudah lima tahun, ya biasa-biasa saja. Justru KE memberikan kemudahan dengan home base di Jakarta,” ujarnya. Soal grounded, kalau ada kesalahan fatal, seperti lupa mengunci meja dorong di pesawat. “Hukumannya grounded sebulan.”
Pramugari Emirates juga mengakui, pekerjaannya bisa empat-lima kali lipat lebih berat dari pramugari maskapai Indonesia. Tapi mereka tetap betah, karena penghasilan dan fasilitas yang terjamin pegang peranan.
“Kendala justru datang dari pihak orangtua. Saat rekrutmen terakhir ada 20 calon yang mengundurkan diri karena dilarang orangtuanya. Mungkin image negara Timur Tengah yang kurang aman bagi perempuan. Padahal Dubai tak beda dengan Jakarta, bahkan seperti Singapura, Hong Kong atau New York. Suasananya internasional dan metropolitan. Tingkat kejahatan sangat rendah karena penduduknya makmur,” tutur John, yang menempatkan awak kabinnya di Dubai, pusat Emirates.
Seperti disebutkan di atas, pramugari Indonesia di maskapai asing itu aset yang berharga, maka tentu perlu juga mendapat perhatian pihak terkait. “Saya bangga pada anak-anak kita yang bekerja di luar sana. Itu kan refleksinya lebih ke pemerintah. Kalau bangsa lain bisa menghargai, kok kita nggak,” kata Rudolf.
Pemerintah memang dituntut untuk memberikan perlindungan bagi mereka sebagai warga negara Indonesia agar mendapat perlakuan layak di negeri orang. Tentu keinginan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Khofifah Indar Parawansadan sudah memintanya kepada Menteri Luar Negeri Alwi Shihab agar ada atase perburuhan, bukan cuma untuk TKI yang sering disorot itu, tapi juga termasuk para awak kabin ini.
“Kalau tak punya duit, ya unit di bawah atase. Mereka bisa mengadu kalau ada kasus. Sekarang ini memang ada yang ditugaskan. Tapi saya ingin bersifat struktural,” kata Menteri.

Posted by novaaes in 10:58:45
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: